Pagi yang cerah di Jakarta yang padat ini.
Halaman pertama media Kompas hari ini memberitakan mengenai seluk beluk kasus Bank Century yang menghebohkan itu. Uang rakyat sejumlah Rp. 6.700.000.000.000 (Enam Trilyun Tujuh Ratus Milyar Rupiah) digunakan untuk mem"bailout" sebuah bank kecil yang katanya berdampak sangat sis temik bila tidak dibantu oleh uang rakyat. Sistemik yang dimaksud konon "katanya" adalah suatu sistem yang dapat memporak porandakan segi keekonomian negara, banyak bank dan industri perbankan yang akan jatuh pailit yang akan mengakibatkan semua industri terkait akan ikut-ikutan "jatuh", seperti properti, konsumen, serta yang lain-lain. Dan akibat "sistemik" itu pula, sendi-sendi sistem perkonomian negara dan bangsa dikhawatirkan akan terpuruk ke jurang resesi, yang akan mengakibatkan bangsa dan negara akan jatuh kedalam kemiskinan yang luar biasa.

Penjelasan sistem sistemik tersebut sampai saat ini masih diperdebatkan untuk kasus "bailout" Bank Century. Sementara, para pejabat yang berwenang yang waktu tersebut mengambil keputusan merasa sudah melakukan suatu "tugas negara" yang mulia yang menurutnya adalah "menyelamatkan perekonomian" negara. Suatu tindakan "berani dan terpuji" dalam membela dan berbakti kepada negara.

Dibagian halaman yang sama pada media yang sama terdapat artikel dimana masyarakat "harus" memakan makanan aking, atau ubi jalar atau sejenisnya dikarenakan tidak dapat membeli beras yang harganya Rp.6.000 per kilogram. Suatu ironi terjadi karena daerah tersebut dekat sekali dengan lumbung padi nasional (pada suatu zaman pernah ada dinegeri ini). Masyarakat tersebut merasa tidak mampu untuk membeli kebutuhan yang sangat pokok sekali yaitu BERAS, untuk anak-anaknya maupun untuk dirinya.

Kontradiksi yang demikian rupanya menjadi "konsumsi" publik yang sudah sangat sering terjadi. Dalam tulisan ini, kita melihat "banyakkkkk" sekali dana yang "terbuang" hanya sebagai konsekuensi dari "tugas negara", sementara disisi lain masyarakat yang merupakan bangsa dari negara ini "diharuskan" mengkonsumsi kebutuhan pokoknya dengan subtistusi yang tidak berimbang. Jangan tanyakan soal kebutuhan kalori maupun kecukupan gizi, mengganjal perut agar tidak terasa lapar saja sudah tidak mampu.

Kemampuan seseorang dalam berorganisasi, mengelola sumber daya alam, manusia dan pemerintahan serta mengelola perkonomian sangatlah jauh berbeda dengan pengelolaan manajemen perusahaan yang intinya memaksimalkan nilai perusahaan. Tetapi, banyak sekali pengelola negri ini yang mengikuti pengelolaan negara berdasarkan manajemen pengelolaan perusahaan, yakni bagaimana caranya memaksimalkan Pengelola.